17/02/10

Uniform Football


Kostum Timnas Sepakbola mengandung banyak makna, bukan hanya sebuah kostum semata, tetapi mengandung banyak makna. Banyak pemain sepakbola yang mendambakan dan menginginkan memakai kostum timnas negaranya, karena merupakan suatu kebanggaan bagi dirinya bahkan banyak yang menganggap dengan dipercaya memakai kostum timnas merupakan cita-cita dan tujuan terakhir dalam perjalanan kariernya sebagai seorang pesepakbola profesional di negaranya. Disisi lain, dengan adanya emblem bendera negara, lambang negara, nama negara dan warna kostum yang sesuai dengan warna bendera negara menunjukkan sebuah eksistensi (pengakuan) terhadap negara tersebut dan tentunya akan menimbulkan semangat nasionalisme.
Sebagai contoh, kostum timnas Indonesia, yaitu dengan adanya kerjasama antara PSSI dengan Nike Indonesia untuk 5 tahun yang telah dimulai dari perhelatan Piala Asia tahun 2007. Berdasarkan pemahaman mendalam atas keunikan kultur dan identitas bangsa Indonesia, diluncurkan kostum baru timnas yaitu kaos merah dan celana putih sebagai kostum kandang, sedangkan kaos putih dengan celana hijau dipilih sebagai kostum tandang. Kostum kandang merupakan bentuk penghormatan kepada bendera kebangsaan Indonesia. Emblem Garuda Pancasila diletakkan di dada kiri. Sementara untuk kostum tandang, Nike terinspirasi dari kostum timnas akhir era 1960-an. Ini sebagai upaya agar kejayaan masa silam bisa terulang.
Ada kekhususan dari kostum baru timnas kali ini. Baik kostum kandang dan tandang, di bagian punggungnya terdapat elemen baru yang berbentuk sayap emas. Ini merupakan simbolisasi dari kekuatan dan kecepatan sayap Garuda. Sengaja dibuat dengan warna emas agar elemen itu tetap terlihat kapan pun saat berlaga.
Demikian pula dengan Brazil. Sebelum berlaga di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, Juni mendatang, tim Samba telah meluncurkan kostum baru. Tidak seperti kostum sebelumnya yang dipenuhi warna kuning terang dengan paduan warna hijau yang selama ini menjadi ciri khas Brasil, kali ini coraknya dipenuhi warna biru.
Warna itu dianggap membawa keberuntungan sejak Brasil merebut Piala Dunia untuk pertama kali pada 1958. Bermula ketika melawan Swedia pada 1958. Ketika itu,timnas Brasil terpaksa memakai kostum biru untuk pertama kali di final lantaran Swedia selaku tuan rumah memakai kostum berwarna kuning. Rupanya itu membawa berkah tersendiri. Sampai saat ini Brasil merupakan satu-satunya negara yang tidak pernah kalah di final Piala Dunia menggunakan kostum biru. Faktanya, entah kebetulan atau tidak, ketika Brazil melaju sampai final Piala Dunia, Brasil selalu mengenakan kostum biru, dan selalu dapat menutup laga dengan kemenangan. Karena cerita itulah asosiasi sepak bola Brasil memutuskan agar Ronaldinho dkk memakai kostum warna biru ketika berlaga di Benua Hitam.
Sedangkan, Hassan Shehata, pelatih timnas Mesir, berkata "Saya tegas memastikan bahwa mereka yang mengenakan kostum Mesir haruslah bagus dalam hubungannya dengan Allah". Shehata menegaskan, skill istimewa saja tidak akan menjamin seorang pemain bakal masuk ke dalam skuad timnas Mesir. Pemain haruslah menjalankan kewajibannya sebagai muslim yang taat.
Perilaku saleh adalah kategori utama dalam seleksi. "Tanpa itu, kami tidak akan memilihnya menjadi pemain terlepas dari besarnya potensi yang dimilikinya," katanya.
"Saya selalu berusaha untuk memastikan bahwa mereka yang mengenakan seragam timnas Mesir adalah orang-orang yang memiliki hubungan baik dengan Allah," imbuhnya. Shehata juga tak segan mencoret pemain bintang. Striker Ahmed Hossam Hussein Abdelhamid atau lebih dikenal dengan Mido dicoret hanya empat hari sejak bergabung dalam seleksi timnas. Mido dianggap kurang taat dalam menjalankan kewajibannya sebagai Muslim. Keputusan Shehata ini cukup mengejutkan karena Mesir sudah kehilangan striker Amr Zaki dan gelandang serang Mohammed Abou Treika. Namun Shehata tetap teguh karena menganggap Mido punya kebiasaan buruk, yakni berpesta.
Sejauh ini kekhawatiran sejumlah pihak akan pencoretan Mido tidak terbukti. Mesir menjadi 'raja' di Afrika sejak ditangani Shehata. Mesir menjuarai Piala Afrika pada 2006, 2008, dan 2009.
Lain halnya dengan Kamerun, gara-gara kostum, timnas Kamerun akhirnya mendapatkan hukuman dari FIFA. Asosiasi sepakbola dunia itu memotong nilai mereka di kualifikasi Piala Dunia 2006 plus denda buat tim Afrika itu. Kostum timnas Kamerun, yang berbentuk bodysuit yang tak memisahkan kaos dengan celananya. FIFA menganggap kostum timnas Kamerun sebagai “tak tepat untuk dipergunakan dalam permainan sepakbola”. Sebelumnya, Kamerun juga pernah bikin heboh kala memperkenalkan kaos buntung, alias kaos tanpa lengan, yang juga berakhir 'tragis' karena diprotes FIFA.